The way i choose.

Tuesday, 26 April 2011

Muhrim...??

diriwayatkan oleh Thabrani:

Adalah lebih baik bagi seseorang dari kamu ditusuk dengan jarum dari besi (dalam versi lain: ditusuk ubun-ubunnya dengan sepotong besi – penerj.) daripada ia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya.”

Hadis tersebut telah dinilai sebagai hasan oleh Al-Albani, dalam takhrij-nya untuk buku karangan saya Al-Halâl wa Al-Harâm, dan juga untuk Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir.

Kalaupun kita bersedia menerima penilaiannya itu – meski hadis tersebut sesungguhnya tidak terlalu dikenal pada masa para Sahabat dan murid-murid mereka – maka yang tampaknya lebih tepat adalah bahwa hadis itu tidak dapat dianggap sebagai nash mengenai haramnya jabatan tangan. [nash = dalil yang qath‘i (jelas)] Sebab, hadis itu menggunakan ungkapan ‘menyentuh’, yang dalam bahasa Al-Quran dan As-Sunnah tidak berarti sembarang persentuhan antara kulit dan kulit. Akan tetapi artinya di sini, sebagaimana dinyatakan oleh Ibn Abbas r.a. (yang digelari Turjuman Al-Quran) adalah bahwa al-mass [sentuhan] dan al-mulâsamah [persentuhan] dalam Al-Quran sering digunakan sebagai kinâyah (ungkapan tersamar) yang menunjuk kepada jimâ‘ (hubungan seksual). Sebab, Allah SWT adalah Al-Hayyiy Al-Karim (Yang Maha Pemalu dan Mahamulia); dan karena itu, Dia menggunakan kinâyah dengan kata-kata yang dikehendaki oleh-Nya, untuk menunjuk kepada suatu makna yang dikehendaki oleh-Nya.

Itulah satu-satunya pemahaman yang dapat diterima, berkaitan dengan firman Allah SWT seperti: “Wahai orang-orang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu menyentuh mereka, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah . . .” (Al-Ahzab: 49)

Para mufassir dan ahli fiqih semuanya – termasuk dari kalangan Zhâhiri sekalipun – menyatakan bahwa kata ‘menyentuh’ dalam ayat ini berarti ‘melakukan hubungan seksual’. Dan adakalanya mereka memasukkan dalam pengertian ini pula “keberadaan suami istri dalam suatu tempat yang tertutup dari siapa pun selain mereka, selama waktu tertentu”. Sebab hal seperti itu memungkinkan keduanya melakukan hubungan yang dimaksud.

Seperti itu pula, kata ‘menyentuh’ yang terdapat dalam beberapa ayat dalam Surah Al-Baqarah yang menyangkut soal perceraian.

Demikian pula firman Allah SWT yang menirukan ucapan Maryam a.s. dalam Surah Ali ‘Imrân ayat 47, menguatkan makna seperti itu: “Ya Allah, betapa mungkin aku mempunyai anak, sedangkan aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.”

Dan cukup banyak dalil-dalil seperti itu, dari Al-Quran dan hadis.

Oleh sebab itu, hadis yang disebutkan di atas tidak dapat dijadikan dalil untuk mengharamkan jabatan tangan biasa antara pria dan wanita, yang tidak disertai dengan syahwat, dan tidak dikhawatirkan menimbulkan akibat yang tidak diingini. Terutama ketika hal itu memang diperlukan, seperti saat-saat kedatangan dari tempat yang jauh, atau setelah sembuh dari sakit, atau terhindar dari malapetaka, dan lain-lain keadaan yang biasa dialami oleh masyarakat, sehingga mereka saling memberi ucapan selamat.

Diantara dalil yang menguatkan hal itu, adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, dari Anas r.a., katanya:

Adakalanya seorang anak perempuan, di antara sahaya-sahaya di kota Madinah, menggandeng tangan Rasulullah saw. sementara beliau tidak berusaha melepaskan tangannya dari tangan si anak sahaya, sehingga ia membawanya ke tempat mana saja yang ia kehendaki.”

Adapun Al-Bukhari merawikannya dengan susunan kalimat hampir sama seperti iu pula.

Hadis tersebut menunjukkan betapa besarnya tawadhu’ beliau serta keramahan dan kelembutan sikap beliau, walaupun terhadap seorang sahaya. Ia menggandeng tangan beliau, melewati jalan-jalan kota Madinah, agar beliau menolongnya memenuhi keperluannya. Sementara itu, beliau – disebabkan sikap tawadhu’ dan keramahtamahannya – tidak hendak mengecewakan si sahaya ataupun menyinggung perasaannya dengan menarik tangan beliau dari tangannya. Sebaliknya, beliau membiarkannya menggandeng tangan beliau menuju tempat yang dikehendaki guna dapat membantunya sehingga ia menyelesaikian keperluannya.

No comments: